6,2Dunia21: keliling dunia lewat film, 155 cerita disusun menurut tempat berlangsungnya
Film adalah tiket perjalanan termurah. Di sini 155 film disusun menurut tempat ceritanya: sebelas tujuan di empat kawasan, dari Jakarta, tanah Jawa, dan Nusantara, ke New York dan Amerika dari pantai ke pantai, ke Inggris dan Eropa daratan, sampai Asia, rimba, dan negeri khayal. Nama tujuannya tertulis di bawah tiap poster.
Mau ke mana? Sebelas tujuan
Indonesia: Jakarta dan kota besar
Lihat semua (25)Indonesia: tanah Jawa
Lihat semua (9)Indonesia: Nusantara di luar Jawa
Lihat semua (9)
7,3
7,6
6,8
8,0
7,7
6,2Amerika: New York
Lihat semua (13)Amerika: dari pantai ke pantai, sampai 2010
Lihat semua (20)Amerika: dari pantai ke pantai, sejak 2011
Lihat semua (28)Inggris dan Irlandia
Lihat semua (17)
7,3
6,2
7,1
7,5
7,1
6,5Eropa daratan
Lihat semua (13)Asia dan Pasifik
Lihat semua (5)Rimba, pulau, dan salju
Lihat semua (7)
8,0
6,9
6,9
7,3
8,1
6,6Negeri khayal dan angkasa
Lihat semua (9)
7,0
6,6
7,6
6,8
6,4
6,1Panduan Dunia21
Dunia21: keliling dunia lewat film, 155 cerita disusun menurut tempat berlangsungnya
Tiket pesawat ke London mahal. Tiket ke Wina lebih mahal lagi. Tiket ke Belitung butuh cuti, dan tiket ke negeri para hobbit berada di luar jangkauan agen perjalanan mana pun. Ada satu cara untuk mengunjungi semuanya malam ini juga, dari sofa, dengan harga secangkir teh: menonton film.
Dunia21 menganggap serius kata "dunia" dalam namanya. Katalog kami, 155 film, disusun menurut tempat ceritanya berlangsung. Sebelas tujuan di empat kawasan: tiga di Indonesia, tiga di Amerika, dua di Eropa, dan tiga di "dunia lain", yaitu Asia dan Pasifik, alam liar, serta negeri khayal dan angkasa.
Di bawah tiap poster ada label kecil bergambar pesawat dengan nama tujuannya: Jakarta, Jawa, Nusantara, New York, Amerika, Inggris dan Irlandia, Eropa. Sekali lihat, Anda tahu ke mana film itu akan membawa Anda. Untuk perkenalan singkat, buka Mulai di Dunia21.
Mengapa memilih film dari tempatnya
Karena tempat adalah separuh suasana. Hujan di London, cahaya sore di Wina, pasir putih Belitung, lampu Natal di New York: kita sering mengingat sebuah film justru lewat tempatnya. Ada malam ketika yang kita inginkan adalah pergi ke suatu tempat, dan cerita apa pun yang terjadi di sana menjadi bonus.
Karena cara ini mempertemukan film yang biasanya berjauhan. Di rak London, beruang bertopi merah bertetangga dengan pemilik toko buku yang jatuh cinta pada bintang film dan dengan pengasuh ajaib dari tahun 1964. Genre mereka berbeda, kotanya sama.
Dan karena penonton Indonesia punya alasan khusus: empat puluh tiga film di sini berlatar di negeri sendiri, dari Sumatra sampai Sumba. Menontonnya berurutan adalah perjalanan keliling Nusantara. Gagasannya ada di Keliling dunia lewat film.
Cara tujuan ditentukan
Tiap film kami beri satu tujuan: tempat utama ceritanya berlangsung. Ini berbeda dari negara pembuat film. Lion dibuat oleh rumah produksi Barat dan berlatar di India serta Tasmania, maka tempatnya di rak Asia dan Pasifik. Ali & Ratu Ratu Queens adalah film Indonesia yang berlatar di New York, maka tempatnya di rak New York.
Film yang berpindah-pindah kami tempatkan di tempat yang paling melekat. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck berjalan dari ranah Minang ke Batavia dan Surabaya, dan hatinya tertinggal di Minang, maka ia masuk Nusantara di luar Jawa. The Holiday terbagi antara Los Angeles dan pedesaan Inggris, dan pondok bersalju itulah yang diingat orang.
Film Amerika yang tersisa, yang berlatar di berbagai kota dan negara bagian, kami kumpulkan sebagai "dari pantai ke pantai" dan kami bagi menurut masa: sampai 2010 dan sejak 2011. Selain sebelas tujuan itu ada dua daftar gabungan: seluruh Indonesia dan seluruh Eropa.
Papan keberangkatan di beranda
Di bagian atas beranda ada papan seperti di bandara, dengan empat baris kawasan. Baris merah untuk Indonesia, baris biru untuk Amerika, baris hijau untuk Eropa, dan baris merah tua untuk dunia lain. Di tiap baris berjajar tiket bernomor 01 sampai 11, masing-masing memuat nama tujuan dan jumlah filmnya.
Di bawah papan ada sebelas baris poster, enam film terpopuler dari tiap tujuan. Tiap poster membawa lencana kuning berisi rating, lencana gelap berisi durasi, dan label tujuan bergambar pesawat. Tombol "Lihat semua" membuka daftar lengkapnya.
Warna situs kami ambil dari Dunia21 yang lama: latar abu-abu terang, panel putih, merah menyala, dan merah tua di bilah atas.
Tujuan 01: Jakarta dan kota besar
Dua puluh lima film, tujuan terbesar kedua di papan, dengan rata-rata rating 7,26. Inilah Indonesia yang macet, sibuk, dan penuh cerita: rumah petak, gedung kantor, toko kelontong, kedai kopi, dan kereta komuter.
Jakarta paling tua di rak ini adalah Jakarta tahun enam puluhan dalam Gie: kampus, demonstrasi, dan becak. Lalu Jakarta remaja awal dua ribuan dalam Ada Apa dengan Cinta?, dengan mading sekolah dan toko buku bekas di Kwitang. Dan Jakarta malam hari dalam Janji Joni, tempat seorang pengantar rol film berpacu dari bioskop ke bioskop.
Jakarta masa kini muncul dalam banyak rupa. Toko kelontong keluarga dalam Cek Toko Sebelah. Kedai kopi di Filosofi Kopi. Kantor perusahaan kecantikan dalam Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan. Rumah yang sesak dan kereta pagi dalam Home Sweet Loan. Ruang makan keluarga dalam Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini.
Dan ada Jakarta yang lain sama sekali: kota kelam penuh ketimpangan dalam Gundala, dan Jakarta tahun sembilan puluhan yang riang dalam Bebas. Film berating tertinggi di katalog, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, juga berlatar di ibu kota. Tujuh film di rak ini berating 7,9 ke atas.
Tujuan 02: tanah Jawa
Sembilan film di luar ibu kota, dari Jawa Barat sampai Jawa Timur, dengan rata-rata rating 7,18. Perjalanan darat yang lengkap: gunung, kebun teh, kota pelajar, pesantren, dan pesisir.
Mulai dari barat. Petualangan Sherina membawa penonton ke perkebunan dan peneropongan bintang di Lembang. Dilan 1990 dan Dilan 1991 berlangsung di Bandung tahun sembilan puluhan. Keluarga Cemara pindah dari kota ke sebuah desa di kaki perbukitan Jawa Barat, dan di sanalah keluarga itu menemukan dirinya kembali.
Ke tengah: Ada Apa Dengan Cinta? 2 menjadikan Yogyakarta seperti peta wisata, dan Kartini membawa kita ke pendopo Jepara abad kesembilan belas. Ke timur: Negeri 5 Menara di sebuah pesantren, Bumi Manusia di Surabaya zaman kolonial, dan 5 cm di puncak Mahameru, titik tertinggi pulau ini.
Tujuan 03: Nusantara di luar Jawa
Sembilan film yang menyeberang laut, dengan rata-rata 7,19. Inilah rak dengan pemandangan paling memukau di papan.
Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi di Belitung: pantai berbatu granit raksasa dan sekolah kayu di kampung tambang timah. Ngeri-Ngeri Sedap di tepi Danau Toba, dengan rumah adat Batak dan bukit-bukit hijau, rating 8,0, tertinggi di rak ini. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di ranah Minang tahun tiga puluhan.
Susah Sinyal membawa ibu dan anak dari Jakarta ke Sumba, pulau dengan sabana dan sinyal telepon yang timbul tenggelam. A Perfect Fit di Bali. Petualangan Sherina 2 di hutan Kalimantan, di antara orang utan. Aruna & Lidahnya berkeliling dari Surabaya dan Madura sampai Pontianak dan Singkawang, kota demi kota, piring demi piring.
Dan Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 berlatar di Nusantara masa silam, dengan hutan, gua, dan kerajaan dari cerita silat. Ketiga tujuan Indonesia dibahas di Tujuan Indonesia.
Tujuan 04: New York
Tiga belas film di satu kota. New York adalah kota yang paling sering difilmkan di dunia, dan di sini ia tampil dari tahun 1988 sampai 2025.
New York musim dingin adalah yang paling terkenal. Home Alone 2: Lost in New York berkeliling dari hotel mewah di tepi Central Park sampai toko mainan raksasa. Elf menaruh peri Kutub Utara di tengah Manhattan. You've Got Mail berjalan-jalan di lingkungan toko buku dan kedai kopi pada musim gugur.
New York pekerja dan seniman: Big dengan piano lantai raksasa di toko mainan, tick, tick... BOOM! dengan apartemen sempit seorang penulis musikal tahun sembilan puluhan, The Secret Life of Walter Mitty yang berangkat dari sebuah kantor majalah, dan Music and Lyrics.
New York keluarga: Wonder dengan rating 8,1, tertinggi di rak ini, berlangsung di sebuah lingkungan tenang di ujung utara Manhattan. Mr. Popper's Penguins menaruh enam penguin di apartemen mewah. Dan satu film Indonesia: Ali & Ratu Ratu Queens, tentang pemuda Jakarta yang mencari ibunya di Queens dan menemukan empat "tante" perantau.
Tujuan 05: Amerika dari pantai ke pantai, sampai 2010
Dua puluh film dari 1985 sampai 2010, tersebar di seluruh peta Amerika Serikat, dengan rata-rata rating 7,04.
Pinggiran Chicago adalah wilayah John Hughes: The Breakfast Club di perpustakaan sebuah SMA, dan Ferris Bueller's Day Off yang membawa tiga murid bolos ke museum, stadion, dan pawai di pusat kota. Groundhog Day terjebak di sebuah kota kecil bersalju di Pennsylvania. A Beautiful Mind di kampus Princeton.
Dua film adalah perjalanan darat. Rain Man melintasi negeri dari timur ke barat dengan mobil tua. Little Miss Sunshine berangkat dari New Mexico menuju pantai California dengan mobil van kuning. High School Musical juga berlatar di New Mexico.
California muncul dalam Liar Liar, 17 Again, Valentine's Day, dan separuh akhir The Social Network, yang bermula di asrama Harvard. Marley & Me pindah dari Florida yang panas ke Pennsylvania yang bersalju. Dan Hachi: A Dog's Tale, film berating tertinggi di rak ini dengan 8,0, berlangsung di sebuah kota kecil dengan stasiun kereta di pesisir timur.
Tujuan 06: Amerika dari pantai ke pantai, sejak 2011
Dua puluh delapan film, tujuan terbesar di papan. Amerika masa kini, dari Massachusetts sampai California.
Pesisir timur: CODA di kota nelayan Gloucester, dengan kapal pukat dan dermaga. The Peanut Butter Falcon di rawa-rawa dan pantai Carolina Utara. Pesisir barat: The Art of Racing in the Rain di Seattle, To All the Boys I've Loved Before di Oregon, Moneyball di Oakland, King Richard di lapangan tenis umum Compton, dan We Bought a Zoo di pedesaan California.
Di tengah negeri: American Underdog di Iowa, Home Team dan The Wrong Paris di Texas, serta Elvis di Memphis dan Las Vegas. Chef adalah perjalanan truk makanan dari Miami lewat New Orleans dan Texas sampai Los Angeles: satu film, empat kota, empat masakan.
Dua film berating tertinggi di rak ini sama-sama dari 2026: Voicemails for Isabelle dengan 8,3 dan The Love Hypothesis dengan 8,2, yang berlatar di sebuah kampus. Ketiga tujuan Amerika dibahas di Tujuan Amerika.
Tujuan 07: Inggris dan Irlandia
Tujuh belas film dari dua pulau yang gemar hujan, teh, dan humor kering. Rentang tahunnya paling panjang di papan: dari 1964 sampai 2025.
London adalah bintangnya. London tahun 1910 dalam Mary Poppins, dengan cerobong asap dan penyapu jalan. London masa krisis ekonomi dalam Mary Poppins Returns. London hangat dalam Paddington, dari stasiun kereta sampai rumah keluarga Brown. London romantis dalam Notting Hill, dengan pasar jalanan dan pintu biru. London mewah dalam Upgraded, dan museumnya yang hidup pada malam hari dalam Night at the Museum: Secret of the Tomb.
Di luar ibu kota: pedesaan bersalju dalam The Holiday, hutan masa kecil dalam Christopher Robin, kota industri tahun delapan puluhan dalam Blinded by the Light, desa nelayan Cornwall dalam Fisherman's Friends, dan pulau terpencil Skotlandia dalam Limbo.
Irlandia punya empat film. Sing Street, rating 7,9 dan tertinggi di rak ini, berlangsung di Dublin tahun 1985. Flora and Son di Dublin masa kini. Belfast di Irlandia Utara tahun 1969, direkam dalam hitam-putih. Dan Irish Wish di pedesaan hijau dengan tebing dan danau.
Tujuan 08: Eropa daratan
Tiga belas film di benua seberang selat. Inilah rak untuk yang rindu kereta malam, kafe pinggir jalan, dan matahari Mediterania.
Dua film Richard Linklater memimpin: Before Sunrise dengan rating 8,0 berjalan kaki semalaman di Wina, dan Before Sunset berjalan kaki sesore di Paris. Paris juga muncul dalam Hugo, tepatnya sebuah stasiun kereta tahun tiga puluhan dengan jam raksasa.
Selatan yang hangat: sebuah pulau Yunani dalam Mamma Mia!, desa Italia dalam La Dolce Villa, Mallorca dalam The Last Sunrise, Spanyol dan Portugal dalam The Map That Leads to You, dan tebing Siprus dalam Find Me Falling. Pitch Perfect 3 berkeliling pangkalan dan kota pesisir Eropa selatan.
Utara dan timur: Denmark dalam The Prince & Me, sebuah kerajaan kecil rekaan dalam Christmas at the Palace, dan Kroasia dalam Sore: Istri Dari Masa Depan, film Indonesia yang hampir seluruhnya direkam di sana. Dan F1 berpindah dari sirkuit ke sirkuit, sebagian besar di Eropa. Kedua tujuan dibahas di Tujuan Eropa.
Tujuan 09: Asia dan Pasifik
Rak terkecil, lima film, dengan rata-rata rating 7,26 yang menyamai rak Jakarta. Kecil dan bermutu.
Lion, rating 8,0, adalah dua tempat dalam satu film: stasiun-stasiun kereta India yang riuh, lalu Tasmania yang lengang. Crazy Rich Asians adalah kartu pos dari Singapura: pusat jajanan malam, rumah-rumah megah, dan taman di tepi teluk. My Stupid Boss adalah film Indonesia yang berlatar di Kuala Lumpur.
Hunt for the Wilderpeople tersesat di hutan lebat Selandia Baru, dan Back of the Net berlangsung di sebuah akademi sepak bola di pesisir Australia.
Tujuan 10: rimba, pulau, dan salju
Tujuh film di tempat-tempat yang jarang dihuni manusia. Rata-rata ratingnya 7,13.
Dua film berating tertinggi mewakili dua kutub suhu. Togo, 8,1, di Alaska tahun 1925: es, badai, dan teluk beku yang retak. Jurassic Park, 8,0, di sebuah pulau tropis di lepas pantai Amerika Tengah.
Rimba sungguhan dan rimba khayalan: hutan India dalam The Jungle Book, sungai Amazon dalam Jungle Cruise, hutan Peru dalam Dora and the Lost City of Gold, serta gurun dan gunung salju di dalam sebuah permainan dalam Jumanji: The Next Level. Dan Dog Gone menyusuri jalur pendakian panjang di pegunungan timur Amerika.
Tujuan 11: negeri khayal dan angkasa
Sembilan film ke tempat yang hanya ada di peta para pendongeng. Paspor boleh ditinggal di rumah.
The Hobbit: The Desolation of Smaug ke hutan kelam, kota danau, dan gunung naga. The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader ke lautan timur Narnia. Alice in Wonderland ke negeri di bawah lubang kelinci. Charlie and the Chocolate Factory ke pabrik dengan sungai cokelat. The Golden Compass ke utara yang dijaga beruang berbaju zirah.
Slumberland ke negeri mimpi, Dolittle ke pulau-pulau dongeng bersama hewan yang bisa bicara, dan Star Trek Beyond ke tepi angkasa. Yang berating tertinggi justru dari Indonesia: Jumbo, 7,7, tempat sebuah kampung bersinggungan dengan dunia ajaib. Tiga tujuan terakhir dibahas di Tujuan dunia lain.
Peta dalam angka
Kawasan terbesar adalah Amerika dengan 61 film di tiga tujuan. Lalu Indonesia dengan 43 film, Eropa dengan 30, dan dunia lain dengan 21. Jumlahnya 155.
Tujuan tunggal terbesar adalah Amerika sejak 2011 dengan 28 film, disusul Jakarta dan kota besar dengan 25, Amerika sampai 2010 dengan 20, serta Inggris dan Irlandia dengan 17. Yang terkecil Asia dan Pasifik dengan 5 film, lalu rimba, pulau, dan salju dengan 7.
Satu angka menarik: dari 47 film Indonesia di katalog, 43 berlatar di Indonesia dan empat berlatar di luar negeri, yaitu di New York, Kuala Lumpur, Kroasia, dan dunia ajaib seekor makhluk bernama Jumbo. Sebaliknya, semua film berlatar Indonesia di sini dibuat oleh orang Indonesia sendiri.
Tujuan mana yang paling memuaskan
Rata-rata rating tertinggi dimiliki dua tujuan sekaligus: Jakarta dan kota besar, serta Asia dan Pasifik, sama-sama 7,26. Di bawahnya Nusantara di luar Jawa dengan 7,19, tanah Jawa dengan 7,18, serta rimba, pulau, dan salju dengan 7,13.
Seluruh Indonesia, bila digabung, meraih 7,23, sedangkan seluruh Eropa 6,94 dan New York 6,82. Tiga tujuan Indonesia menempati tiga dari empat tempat teratas. Penonton tampaknya paling murah hati kepada cerita dari tempat yang mereka kenal.
Juara tiap kawasan: Jatuh Cinta Seperti di Film-Film untuk Indonesia dengan 8,8, Voicemails for Isabelle untuk Amerika dengan 8,3, Before Sunrise untuk Eropa dengan 8,0, dan Togo untuk dunia lain dengan 8,1.
Berapa lama tiap perjalanan
Menamatkan satu tujuan butuh waktu yang berbeda-beda. Asia dan Pasifik: lima film, 532 menit, sekitar sembilan jam, cukup satu akhir pekan. Rimba, pulau, dan salju: 793 menit. Negeri khayal: 1.052 menit. Tanah Jawa dan Nusantara di luar Jawa hampir sama: 1.096 dan 1.095 menit, masing-masing sekitar delapan belas jam.
Eropa daratan 1.380 menit, New York 1.406 menit, Inggris dan Irlandia 1.874 menit. Tiga tujuan besar butuh kesabaran: Amerika sampai 2010 dengan 2.113 menit, Jakarta dengan 2.839 menit, dan Amerika sejak 2011 dengan 3.109 menit, hampir lima puluh dua jam.
Keliling seluruh Indonesia memakan 5.030 menit, hampir delapan puluh empat jam. Satu film tiap malam, dan dalam enam pekan Anda sudah menjelajah dari Toba sampai Sumba.
Tempat cerita dan negara pembuat
Label tujuan menunjukkan tempat cerita, dan itu kadang mengejutkan. Sore: Istri Dari Masa Depan adalah film Indonesia yang berlatar di Kroasia. My Stupid Boss berlatar di Malaysia. Ali & Ratu Ratu Queens berlatar di Amerika.
Di sisi lain, film berbahasa Inggris pun berkelana. Lion sebagian besar berbahasa Hindi dan Bengali pada separuh pertamanya. Crazy Rich Asians dibuat studio Amerika dan hampir seluruhnya berlangsung di Singapura. Hugo adalah film Amerika tentang Paris, dan Before Sunrise film Amerika tentang Wina.
Karena itu Dunia21 memisahkan dua hal: bahasa film dapat Anda lihat di halaman tiap judul, dan tempat cerita ada di labelnya. Penjelasannya di Tempat cerita dan negara pembuat.
Label tujuan di bawah poster
Tiap poster di Dunia21 membawa tiga tanda. Di sudut kiri atas, lencana kuning berisi rating penonton. Di sudut kanan atas, lencana gelap berisi durasi dalam menit. Dan di bawah poster, label putih bergaris putus-putus seperti sobekan tiket, dengan gambar pesawat kecil dan nama tujuan dalam huruf kapital.
Namanya ditulis pendek: Jakarta, Jawa, Nusantara, New York, Amerika, Inggris & Irlandia, Eropa, Asia & Pasifik, Alam liar, dan Negeri khayal. Di bawah label ada judul film, tahun, dan genre utamanya. Penjelasannya ada di Label tujuan.
Halaman film dan tombol Tonton sekarang
Tekan poster untuk membuka halaman film: judul, tahun, durasi, rating, genre, sinopsis berbahasa Indonesia, pemeran utama, dan sutradara. Sinopsis biasanya menyebut tempat ceritanya, sehingga Anda bisa memastikan tujuan sebelum berangkat.
Dunia21 adalah panduan: tugasnya mengenalkan film dan menunjukkan jalannya. Di bagian "Tempat menonton" ada daftar negara dan tombol Tonton sekarang. Pilih negara Anda, tekan tombolnya, dan halaman judul itu terbuka di JustWatch dengan layanan langganan, sewa, beli, dan gratis yang menyediakannya. Soal bahasa dan teks terjemahan ada di Bahasa dan subtitle.
Pencarian, Daftar Saya, dan ponsel
Kotak pencarian di bilah atas menerima judul, nama pemeran, nama sutradara, dan tahun. Hasilnya tampil dengan label tujuan yang sama. Caranya ada di Pencarian.
Tombol Daftar Saya menyimpan film ke peramban Anda. Gunakan sebagai rencana perjalanan: simpan satu film dari tiap tujuan, dan Anda punya tiket keliling dunia sebelas kota. Petunjuknya ada di Panduan Daftar Saya. Di ponsel, papan keberangkatan menjadi empat blok bertumpuk dan poster tampil dua kolom. Lihat Dunia21 di ponsel.
Tiga rute perjalanan
Rute pertama, keliling Nusantara dalam sepekan. Senin di Jakarta dengan Cek Toko Sebelah. Selasa di Bandung dengan Dilan 1990. Rabu di Yogyakarta dengan Ada Apa Dengan Cinta? 2. Kamis di Mahameru dengan 5 cm. Jumat di Belitung dengan Laskar Pelangi. Sabtu di Toba dengan Ngeri-Ngeri Sedap. Minggu di Sumba dengan Susah Sinyal.
Rute kedua, Eropa dengan kereta. Berangkat dari London bersama Paddington, menyeberang ke Paris dengan Before Sunset, naik kereta malam ke Wina dengan Before Sunrise, turun ke Italia dengan La Dolce Villa, lalu berlayar ke Yunani dengan Mamma Mia!. Lima film, lima negara, 478 menit.
Rute ketiga, Amerika dari timur ke barat. Mulai di New York dengan You've Got Mail, ke Pennsylvania dengan Groundhog Day, ke Chicago dengan Ferris Bueller's Day Off, ke New Mexico dengan Little Miss Sunshine, dan berakhir di California dengan Moneyball. Rute lain ada di Rute perjalanan.
Musim dan cuaca di layar
Tempat datang bersama cuacanya, dan papan ini bisa dibaca sebagai ramalan cuaca. Ingin salju? New York bulan Desember dalam Elf dan Home Alone 2: Lost in New York, pedesaan Inggris dalam The Holiday, Pennsylvania dalam Groundhog Day, dan salju paling serius di Alaska dalam Togo.
Ingin matahari? Yunani dalam Mamma Mia!, Mallorca dalam The Last Sunrise, Bali dalam A Perfect Fit, Singapura dalam Crazy Rich Asians, dan sabana Sumba dalam Susah Sinyal. Ingin hujan dan langit kelabu yang nyaman? London dalam Paddington dan Dublin dalam Sing Street.
Ingin udara pegunungan? Lembang dalam Petualangan Sherina, Mahameru dalam 5 cm, dan Danau Toba dalam Ngeri-Ngeri Sedap. Pada malam yang gerah, film bersalju terasa seperti pendingin udara. Daftarnya ada di Musim dan cuaca di layar.
Tempat dan zamannya
Sebuah tempat berubah menurut zaman, dan beberapa tujuan di papan ini sesungguhnya perjalanan waktu. Jepara abad kesembilan belas dalam Kartini. Surabaya awal abad kedua puluh dalam Bumi Manusia. Ranah Minang tahun tiga puluhan dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta tahun enam puluhan dalam Gie. Bandung tahun 1990 dalam Dilan 1990.
Di luar negeri: London tahun 1910 dalam Mary Poppins, Alaska tahun 1925 dalam Togo, Paris tahun tiga puluhan dalam Hugo, Belfast tahun 1969 dalam Belfast, Dublin tahun 1985 dalam Sing Street, dan kota industri Inggris tahun 1987 dalam Blinded by the Light.
Film-film ini memberi dua tiket sekaligus: tiket ke tempat lain dan tiket ke masa lain. Bagi pelajar, inilah cara paling menyenangkan untuk melihat pelajaran sejarah bergerak.
Stasiun, kereta, dan kapal
Perjalanan dalam film sering dimulai di stasiun. Seekor beruang ditemukan di stasiun London dan dinamai menurut stasiun itu dalam Paddington. Seorang anak yatim tinggal di balik jam stasiun Paris dalam Hugo. Dua orang asing bertemu di kereta menuju Wina dalam Before Sunrise. Seekor anjing menunggu di depan stasiun kecil tiap sore dalam Hachi: A Dog's Tale.
Seorang bocah tertidur di kereta kosong dan terbawa seribu enam ratus kilometer dalam Lion. Dan di Jakarta, Home Sweet Loan memperlihatkan kereta komuter pagi yang penuh sesak, perjalanan yang dialami jutaan pekerja tiap hari.
Kapal pun punya perannya: kapal uap yang karam dalam roman Hamka, kapal layar ajaib menuju ujung dunia Narnia, dan perahu sungai reyot di Amazon dalam Jungle Cruise. Kendaraan dalam film adalah tempat cerita berganti arah.
Kota besar dan kampung halaman
Banyak film di papan ini sesungguhnya tentang perpindahan antara kota dan desa. Keluarga Cemara pindah dari Jakarta ke desa, dan menemukan bahwa hidup sederhana punya kekayaannya sendiri. Ngeri-Ngeri Sedap memanggil empat anak rantau pulang ke kampung di tepi danau. Laskar Pelangi tinggal di kampung dan bermimpi tentang dunia luar.
Di luar negeri polanya serupa. The Holiday menukar rumah besar di Los Angeles dengan pondok kecil di desa Inggris. Fisherman's Friends membawa orang kota ke desa nelayan dan membuatnya enggan pulang. Irish Wish dan La Dolce Villa sama-sama mengirim orang Amerika ke pedesaan Eropa.
Arah sebaliknya ada dalam Ali & Ratu Ratu Queens, dari Jakarta ke kota terbesar Amerika, dan Lion, dari desa kecil India ke belantara stasiun kota besar. Rumah, dalam film-film ini, selalu berupa tempat sekaligus orang-orangnya.
Meja makan di tiap tujuan
Cara tercepat mengenal sebuah tempat adalah lewat makanannya, dan film tahu hal itu. Aruna & Lidahnya adalah perjalanan kuliner sungguhan: Aruna dan kawan-kawannya berpindah dari kota ke kota di Nusantara, dan tiap persinggahan ditandai sepiring hidangan khas. Tonton film ini dalam keadaan kenyang, atau siapkan camilan sebelum mulai.
Filosofi Kopi mengajak Anda dari kedai kecil di Jakarta ke kebun kopi di lereng gunung, mencari secangkir kopi paling sempurna. Cek Toko Sebelah berpusat pada toko kelontong keluarga, tempat beras, gula, dan kabar tetangga berpindah tangan tiap hari.
Di Amerika, The Founder bermula dari kedai burger di California tahun lima puluhan dan sistem saji cepat yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Words on Bathroom Walls mengikuti remaja yang bercita-cita menjadi koki dan menemukan ketenangan di dapur. Dan di negeri khayal, Charlie and the Chocolate Factory membangun pabrik cokelat lengkap dengan sungai dan air terjunnya.
Sekolah dan kampus di peta
Sekolah adalah tempat yang dikenal semua orang, dan tiap negara punya versinya. Di Jakarta ada majalah dinding dan puisi dalam Ada Apa dengan Cinta?, serta tiga sahabat yang membuat film dokumenter tentang sekolah mereka dalam Catatan Akhir Sekolah. Di Bandung ada seragam putih abu-abu dan motor tua dalam Dilan 1990.
Di Jawa Timur ada pesantren dengan lima menaranya dalam Negeri 5 Menara. Di Belitung ada sekolah berdinding papan dengan sepuluh murid dalam Laskar Pelangi. Sekolah yang paling sederhana di papan ini sekaligus menjadi salah satu yang paling dicintai penontonnya.
Di New York, Wonder mengantar seorang anak ke kelas lima untuk pertama kalinya. Di pinggiran kota Amerika, Flipped mengikuti dua tetangga dari kelas dua sampai masa remaja. Pitch Perfect 2 berlangsung di kampus dengan kelompok vokalnya, dan di Dublin, anak-anak Sing Street membentuk band di halaman sekolah yang keras.
Natal di berbagai tujuan
Film Natal adalah genre yang sangat bergantung pada tempat: lampu, salju, dan rumah yang dihias. Papan Dunia21 memuat sebelas film Natal yang tersebar dari New York sampai Eropa daratan.
Di New York ada Elf dan Home Alone 2: Lost in New York, dengan pohon raksasa dan toko mainan yang gemerlap. Di kota-kota Amerika lainnya ada Christmas with the Kranks, Four Christmases, This Christmas, Candy Cane Lane, Too Close for Christmas, Oh. What. Fun., dan Home Sweet Home Alone. Semuanya berkisah tentang keluarga besar yang berkumpul dan keributan kecil yang menyertainya.
Di Inggris ada The Holiday dengan pondok bersalju dan perapiannya. Di Eropa daratan ada Christmas at the Palace, kisah seluncur es di sebuah kerajaan kecil. Bagi penonton di negeri tropis, film-film ini adalah cara merasakan bulan Desember yang dingin sambil tetap memakai kaus.
Rumah keluarga sebagai latar
Sebagian film terbaik di papan ini hampir seluruhnya berlangsung di dalam satu rumah. 1 Kakak 7 Ponakan mengikuti arsitek muda yang mendadak menjadi orang tua bagi para keponakannya, di rumah Jakarta yang sempit dan ramai. Penonton memberinya rating 8,4.
Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini dan prekuelnya, Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti, membuka rahasia sebuah keluarga dari ruang makan dan kamar-kamar rumahnya. Orang Kaya Baru memindahkan satu keluarga sederhana ke rumah mewah dan mengamati apa yang berubah. Milly & Mamet menemani pasangan muda dengan bayi pertamanya.
Di Amerika, Are We Done Yet? menjadikan rumah tua yang direnovasi sebagai sumber kelucuan. Dan Sweet 20 memperlihatkan nenek berusia tujuh puluhan yang kembali muda, lalu melihat rumah dan keluarganya sendiri dengan mata baru. Tempat, dalam film-film ini, sebesar ruang keluarga.
Tokoh nyata di tempat nyata
Film biografi memberi nilai tambah bagi peta ini, karena tempatnya sungguh ada dan bisa dikunjungi. Kartini berlangsung di rumah bupati Jepara. Gie mengikuti seorang mahasiswa di Jakarta tahun enam puluhan sampai ke puncak gunung yang dicintainya.
Di Amerika, Tucker: The Man and His Dream mengisahkan perancang mobil yang menantang industri raksasa setelah Perang Dunia Kedua. Tesla mengikuti sang penemu dan laboratoriumnya. The Founder menelusuri lahirnya jaringan restoran terbesar di dunia. Moneyball berlangsung di ruang manajer sebuah klub bisbol di California.
Togo mengangkat perjalanan kereta anjing sungguhan di Alaska tahun 1925. Lion diangkat dari kisah nyata seorang anak yang menemukan kampungnya lewat peta satelit, dua puluh lima tahun kemudian. Dan tick, tick... BOOM! menghidupkan kembali New York tahun 1990 lewat seorang penulis musikal muda.
Pendekar dan pahlawan dari Nusantara
Indonesia punya jagoan sendiri, dan tiga di antaranya ada di papan ini. Gundala lahir di sudut Jakarta yang keras: seorang anak buruh yang tumbuh menjadi petugas keamanan dan mendapat kekuatan dari petir. Sri Asih melanjutkan semesta yang sama dengan petarung muda pewaris kekuatan seorang dewi.
Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 membawa Anda ke Nusantara abad keenam belas, ke hutan, perguruan silat, dan istana kerajaan. Film ini masuk tujuan Nusantara karena dunianya adalah tanah air versi dongeng silat.
Di ujung lain ada pahlawan komedi. Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 menghidupkan kembali trio pelawak legendaris sebagai petugas yang selalu membuat kekacauan di jalanan Jakarta. Kelucuannya lahir dari kota itu sendiri: kemacetan, pedagang, dan birokrasi.
Perjalanan bersama hewan
Banyak perjalanan di papan ini dipimpin oleh hewan. Paddington datang dari Peru ke London membawa koper dan selai jeruk. Hachi: A Dog's Tale menunggu di depan stasiun. A Dog's Purpose mengikuti satu jiwa anjing melewati beberapa kehidupan dan beberapa pemilik di Amerika.
June & Kopi adalah versi Jakarta: anjing jalanan yang dipungut pasangan muda dan menjadi penjaga keluarga itu. Dog Gone mengikuti seorang ayah dan anaknya menyusuri jalur pendakian panjang untuk mencari anjing mereka. Togo berlari lebih dari empat ratus kilometer di atas es.
Ada pula hewan yang lebih besar dan lebih aneh: gajah terbang di tenda sirkus dalam Dumbo, enam penguin di apartemen New York dalam Mr. Popper's Penguins, seisi kebun binatang yang bisa bicara dalam Dolittle, dan dinosaurus di pulau tropis dalam Jurassic Park. Anak-anak biasanya memilih tujuan dari hewannya, dan itu cara memilih yang sah.
Tujuan menurut suasana hati
Tempat membawa suasana, sehingga papan ini bisa dipakai menurut perasaan. Sedang rindu rumah? Pilih Nusantara: Ngeri-Ngeri Sedap atau Keluarga Cemara. Sedang jenuh dengan kota? Pilih alam liar: Hunt for the Wilderpeople di semak Selandia Baru atau The Jungle Book di rimba India.
Sedang ingin jatuh cinta? Eropa daratan menyediakan Before Sunrise dan The Map That Leads to You. Sedang butuh tawa? Jakarta punya Cek Toko Sebelah 2 dan Terlalu Tampan. Sedang ingin semangat? Amerika punya Uncle Drew dan lapangan basket jalanannya.
Sedang ingin menangis dengan lega? Ambil Surat untuk Masa Mudaku, kisah persahabatan di sebuah panti asuhan, atau Critical Eleven, yang bermula dari penerbangan Jakarta menuju Sydney. Sedang ingin kabur sejauh mungkin? Tujuan kesebelas selalu buka: Slumberland dan Alice in Wonderland.
Papan untuk penonton kecil
Keluarga dengan anak bisa memakai peta ini sebagai pelajaran geografi yang menyenangkan. Mulailah dari dekat: Petualangan Sherina di kebun teh Lembang, lalu Petualangan Sherina 2 di hutan Kalimantan. Lanjutkan ke London bersama Mary Poppins Returns dan Christopher Robin.
Berikutnya rimba: Dora and the Lost City of Gold di hutan Amerika Selatan dan Jumanji, tentang papan permainan yang membawa rimba masuk ke dalam rumah. Akhiri di negeri khayal bersama Jumbo, film animasi Indonesia yang ditonton jutaan keluarga.
Setelah tiap film, bukalah peta atau globe dan cari tempatnya bersama anak. Di mana Peru? Seberapa jauh London dari Jakarta? Tujuh film berarti tujuh titik di peta, dan pengetahuan yang menempel karena datang bersama cerita.
Dua film, satu tempat
Cara yang bagus untuk mengenal sebuah tempat adalah menontonnya dua kali lewat dua film. Belitung tampil dalam Laskar Pelangi dan kembali dalam Sang Pemimpi, ketika anak-anaknya sudah remaja dan bekerja di pelabuhan sebelum fajar. Bandung tampil dalam Dilan 1990 dan Dilan 1991, dengan jalan dan warung yang sama.
London tampil dari dua zaman: jalan berkabut dan cerobong asap dalam Mary Poppins, lalu kota modern yang ramah dalam Paddington. Toko kelontong yang sama dibuka kembali dalam Cek Toko Sebelah dan Cek Toko Sebelah 2. Dan pasangan yang sama berpindah dari Wina dalam Before Sunrise ke Paris dalam Before Sunset, sembilan tahun kemudian.
Menonton berpasangan seperti ini membuat Anda mulai mengenali sudut jalan, dan tempat itu perlahan terasa seperti milik sendiri.
Seberapa jauh dari rumah
Bagi penonton di Jakarta, papan ini bisa dibaca sebagai lingkaran yang makin lebar. Lingkaran terdekat adalah kota itu sendiri, dengan 25 film. Sekitar 150 kilometer ke tenggara ada Bandung milik Dilan. Sekitar 500 kilometer ke timur ada Yogyakarta milik Rangga dan Cinta. Di seberang laut ada Belitung, Toba, Ranah Minang, Bali, dan Sumba.
Lingkaran berikutnya adalah tetangga: Singapura dalam Crazy Rich Asians dan Kuala Lumpur dalam My Stupid Boss, keduanya kurang dari dua jam penerbangan. Lebih jauh ada Australia dalam Back of the Net dan Selandia Baru dalam Hunt for the Wilderpeople.
Lingkaran terluar adalah Eropa, sekitar sebelas ribu kilometer, dan New York, sekitar enam belas ribu kilometer. Di layar, semua jarak itu sama: satu tekan tombol.
Bahasa yang terdengar di tiap tujuan
Dari 155 film, 47 berbahasa asli Indonesia dan 108 berbahasa Inggris. Tetapi rak Indonesia berisi 43 film, karena empat film Indonesia berlatar di tempat lain: Ali & Ratu Ratu Queens di New York, Sore: Istri Dari Masa Depan di Eropa, My Stupid Boss di Kuala Lumpur, dan Jumbo di negeri khayal.
Di dalam rak Indonesia sendiri, telinga Anda akan menangkap banyak logat. Logat Batak dalam Ngeri-Ngeri Sedap, logat Melayu Belitung dalam Laskar Pelangi, bahasa Jawa halus dalam Kartini, logat Minang dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan bahasa gaul Jakarta dalam Bebas. Peta tempat sekaligus menjadi peta bunyi.
Film berbahasa Inggris pun beragam: aksen London, aksen Dublin, aksen Irlandia Utara, dan aksen Selandia Baru terdengar sangat berbeda dari aksen Amerika. Teks terjemahan membantu, dan telinga cepat terbiasa.
Tujuan dengan pemandangan paling memikat
Sebagian film layak ditonton di layar terbesar yang Anda punya, semata karena pemandangannya. 5 cm menutup ceritanya dengan matahari terbit di atas lautan awan Mahameru. Susah Sinyal memperlihatkan bukit sabana dan pantai Sumba. Mamma Mia! berlangsung di pulau Yunani dengan laut biru di tiap sudut gambar.
Hunt for the Wilderpeople mengejar dua buronan lucu melintasi hutan dan pegunungan Selandia Baru. The Hobbit: The Desolation of Smaug memakai alam yang sama untuk membangun dunia rekaannya. F1 berpindah dari sirkuit ke sirkuit di berbagai negara dengan kecepatan tiga ratus kilometer per jam.
Ada satu kasus menarik: The Secret Life of Walter Mitty terkenal karena gambar Islandia dan Himalaya, tetapi masuk tujuan New York. Aturannya tetap berlaku: tokohnya tinggal dan bekerja di New York, dan dari sanalah tiap perjalanannya berangkat dan berakhir.
Kisah para perantau
Banyak film di papan ini bercerita tentang orang yang meninggalkan rumah, tema yang sangat dekat dengan penonton Indonesia. Negeri 5 Menara mengirim remaja Minang ke pesantren di Jawa. Sang Pemimpi mengikuti anak Belitung yang bercita-cita kuliah di Paris. Ali & Ratu Ratu Queens menerbangkan pemuda Jakarta ke New York untuk mencari ibunya.
Upgraded mengirim pekerja magang dari New York ke London dengan satu kebohongan kecil yang membesar. Crazy Rich Asians membawa dosen dari New York ke Singapura untuk bertemu keluarga kekasihnya. Paddington adalah perantau paling sopan di seluruh papan.
Film perantau selalu memperlihatkan dua tempat sekaligus: yang ditinggalkan dan yang didatangi. Karena itu aturan durasi terbanyak sangat membantu di sini, dan label di bawah poster memberi tahu Anda di tempat mana cerita paling lama tinggal.
Musik dari tiap kota
Tiap tempat punya bunyinya. Dublin terdengar dalam Sing Street dan Flora and Son, dua film tentang lagu yang ditulis di kamar sempit. Desa nelayan Inggris terdengar dalam Fisherman's Friends, lewat paduan suara pelaut yang sungguh ada. Kota industri Inggris terdengar dalam Blinded by the Light, lewat lagu-lagu Bruce Springsteen di telinga remaja keturunan Pakistan.
New York terdengar dalam Music and Lyrics dan tick, tick... BOOM!. Panggung-panggung Eropa terdengar dalam Pitch Perfect 3, ketika kelompok vokal itu berkeliling benua. Yunani terdengar dalam lagu-lagu ABBA sepanjang Mamma Mia!.
Dan Jakarta tahun sembilan puluhan terdengar dalam Bebas, dengan lagu-lagu pop Indonesia yang masih dihafal satu generasi. Bila Anda memilih film dari musiknya, papan ini tetap bisa dipakai: cari kotanya, dan lagunya ikut datang.
Lapangan, sirkuit, dan arena
Olahraga juga punya alamat. Moneyball berlangsung di stadion bisbol California dan ruang rapat di bawah tribunnya. Uncle Drew berakhir di lapangan basket jalanan paling terkenal di New York setelah perjalanan darat menjemput pemain tua satu per satu.
F1 membawa Anda ke lintasan balap di Eropa dan Timur Tengah. Back of the Net mengirim remaja Amerika ke akademi sepak bola di Australia karena salah naik bus. Christmas at the Palace berlangsung di arena seluncur es sebuah kerajaan kecil.
Dan di Indonesia, 5 cm adalah film olahraga dengan caranya sendiri: lima sahabat mendaki puncak tertinggi Pulau Jawa. Lapangan, dalam film ini, setinggi 3.676 meter.
Toko, kedai, dan kantor di layar
Tempat kerja adalah latar yang sering luput dari perhatian, padahal di sanalah banyak cerita tinggal. Toko buku menjadi panggung dua kisah cinta: toko kecil di sudut London dalam Notting Hill dan toko mungil yang bersaing dengan jaringan raksasa di New York dalam You've Got Mail.
Big menempatkan bocah tiga belas tahun dalam tubuh pria dewasa di kantor perusahaan mainan. Janji Joni mengikuti pengantar rol film yang berpacu melintasi Jakarta dari bioskop ke bioskop. Home Sweet Loan memperlihatkan meja kantor dan lembar hitungan cicilan seorang pekerja muda. Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan berlangsung di kantor perusahaan kecantikan.
Dan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film memilih meja seorang penulis skenario, tempat cerita di dalam cerita ditulis dalam hitam putih. Film-film ini memperlihatkan Jakarta, London, dan New York pada jam kerja, sisi kota yang jarang masuk kartu pos.
Tiga maraton satu tempat
Bila Anda punya satu sore penuh, pilih dua film dari tempat yang sama. Maraton Belitung berisi Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, seluruhnya 241 menit, atau empat jam satu menit bersama anak-anak yang sama dari sekolah dasar sampai remaja.
Maraton Bandung berisi Dilan 1990 dan Dilan 1991, seluruhnya 227 menit. Maraton paling ringkas adalah pasangan Before Sunrise dan Before Sunset, hanya 181 menit, tiga jam satu menit untuk dua kota dan sembilan tahun.
Sisipkan jeda lima belas menit di antara dua film, untuk meregangkan kaki dan mengisi gelas. Sebuah perjalanan yang baik selalu punya persinggahan.
Tiket terbaru di papan
Papan Dunia21 memuat film dari tahun 1964 sampai 2026. Yang tertua adalah Mary Poppins, dan dari dasawarsa delapan puluhan ada The Breakfast Club, Ferris Bueller's Day Off, Rain Man, Big, dan Tucker: The Man and His Dream.
Di ujung lain ada empat film berangka tahun 2026: Voicemails for Isabelle dengan rating 8,3 dan The Love Hypothesis dengan rating 8,2 di tujuan Amerika, The Last Sunrise di Eropa, dan Surat untuk Masa Mudaku di Jakarta dengan rating 7,9.
Tahun 2025 menyumbang sebelas film yang tersebar di enam tujuan, dari 1 Kakak 7 Ponakan di Jakarta sampai F1 di sirkuit Eropa dan Jumbo di negeri khayal. Peta ini tumbuh ke segala arah sekaligus.
Sebelas kartu pos
Bayangkan tiap tujuan mengirim satu kartu pos. Dari Jakarta: lampu toko kelontong yang masih menyala selepas magrib. Dari tanah Jawa: lautan awan di bawah puncak gunung. Dari Nusantara: sepuluh anak dan seorang ibu guru di depan sekolah papan.
Dari New York: pohon Natal raksasa dan seorang anak yang tersesat dengan gembira. Dari Amerika lama: sebuah mobil tua melaju di jalan lurus menuju barat. Dari Amerika baru: lapangan sekolah pada hari pertama tahun ajaran.
Dari Inggris dan Irlandia: seekor beruang bertopi merah di peron stasiun. Dari Eropa daratan: dua orang berjalan sepanjang malam di kota tua. Dari Asia dan Pasifik: kereta yang membawa seorang bocah terlalu jauh. Dari alam liar: tim anjing menembus badai salju. Dari negeri khayal: kapal layar berkepala naga menuju tepi peta. Sebelas gambar, sebelas alasan untuk berangkat.
Bekal kecil sebelum berangkat
Perjalanan lewat film pun terasa lebih lengkap dengan sedikit persiapan. Pertama, pilih tujuan lebih dulu dan film kemudian. Putuskan "malam ini ke Eropa", baru buka raknya. Cara ini memangkas waktu memilih dari setengah jam menjadi dua menit, karena rak terbesar pun hanya berisi 28 film.
Kedua, cocokkan camilan dengan tujuan. Teh panas untuk London, kopi tubruk untuk Jakarta, pisang goreng untuk tanah Jawa, jagung berondong untuk Amerika. Kebiasaan kecil ini disukai anak-anak dan membuat malam film terasa seperti acara.
Ketiga, catat tempat yang Anda sukai. Setelah lima atau enam film, Anda akan melihat pola: mungkin Anda selalu kembali ke desa pesisir, atau ke kota besar pada musim dingin. Pola itu adalah selera Anda, dan papan ini membantu menemukannya.
Keempat, ajak teman menonton dari tempat yang sama. Dua orang yang menonton Ngeri-Ngeri Sedap akan langsung bertukar cerita tentang kampung masing-masing. Dua orang yang menonton Before Sunrise akan mulai merencanakan perjalanan kereta. Film tentang tempat selalu berakhir dengan percakapan tentang tempat.
Kelima, sesekali pilihlah tujuan yang paling asing bagi Anda. Bila Anda selalu menonton film Amerika, cobalah Nusantara di luar Jawa. Bila Anda selalu menonton film Indonesia, cobalah Irlandia lewat Sing Street atau Selandia Baru lewat Hunt for the Wilderpeople. Kejutan terbaik di papan ini biasanya menunggu di rak yang paling jarang Anda buka.
Lima langkah untuk kunjungan pertama
Langkah pertama: lihat papan keberangkatan di beranda dan pilih satu dari empat kelompok, yaitu Indonesia, Amerika, Eropa, atau Dunia lain. Langkah kedua: tekan salah satu tujuan di dalam kelompok itu. Rak filmnya terbuka, dengan film paling dikenal di urutan terdepan.
Langkah ketiga: baca label di bawah poster dan lencana di sudutnya, lalu tekan film yang menarik. Langkah keempat: baca sinopsis dan lihat pemerannya. Langkah kelima: pilih negara Anda dan tekan Tonton sekarang untuk melihat layanan yang menayangkannya secara resmi.
Seluruh proses memakan waktu sekitar dua menit. Sisanya adalah menonton. Uraian tiap langkah, lengkap dengan saran film pembuka, ada di Mulai di Dunia21.
Yang dijaga Dunia21
Tiap film punya tepat satu tujuan, sehingga sebelas rak itu bersih dari tumpang-tindih dan jumlahnya selalu 155. Tujuan ditentukan dari tempat cerita berlangsung paling lama, dengan aturan yang sama untuk semua film. Angka di halaman ini dihitung dari katalog itu sendiri.
Sinopsis ditulis dalam bahasa Indonesia yang wajar. Rating adalah rata-rata penilaian penonton dan ditampilkan apa adanya, yang tinggi maupun yang rendah. Tombol Tonton sekarang selalu mengarah ke halaman pencarian layanan resmi.
Dan papan ini akan tetap sederhana: empat kelompok, sebelas tujuan, satu label per film. Peta yang baik adalah peta yang bisa dibaca dalam sekali pandang.
Pertanyaan yang sering diajukan
Jawaban singkat untuk pertanyaan yang paling sering datang ada di bawah ini. Versi panjangnya ada di halaman Tanya jawab.
Selamat jalan
Sebuah film adalah tiket termurah ke tempat mana pun. Dalam dua jam Anda bisa berdiri di pantai Belitung, di trotoar New York bersalju, di stasiun London, atau di geladak kapal menuju ujung dunia. Dunia21 hanya menyusun tiket-tiket itu menurut tujuannya dan menggantungnya di satu papan.
Pilih satu tujuan malam ini. Besok pilih yang lain. Dalam sebelas malam Anda sudah mengelilingi seluruh papan, dan masih tersisa 144 film untuk putaran berikutnya. Selamat jalan, dan selamat menonton.
Pertanyaan
Apa itu Dunia21?
Dunia21 adalah panduan film berbahasa Indonesia yang menyusun 155 film menurut tempat ceritanya berlangsung. Ada sebelas tujuan dalam empat kelompok: Indonesia, Amerika, Eropa, dan Dunia lain.
Bagaimana tujuan sebuah film ditentukan?
Dari tempat cerita berlangsung paling lama. Film yang berpindah-pindah masuk ke tempat yang paling banyak mengisi durasinya, dan film di dunia rekaan masuk tujuan Negeri khayal dan angkasa.
Di mana saya bisa menonton filmnya?
Buka halaman film, pilih negara Anda di bagian Tempat menonton, lalu tekan Tonton sekarang. Halaman judul itu terbuka di JustWatch dengan daftar layanan resmi yang menyediakannya.
Tujuan mana yang paling banyak filmnya?
Amerika dari pantai ke pantai sejak 2011 dengan 28 film, disusul Jakarta dan kota besar dengan 25 film. Seluruh Indonesia digabung berisi 43 film.
Tujuan mana yang ratingnya paling tinggi?
Jakarta dan kota besar serta Asia dan Pasifik sama-sama mencatat rata-rata 7,26. Tiga tujuan Indonesia digabung mencatat 7,23.
Apakah ada film untuk anak?
Ada banyak. Mulailah dari Petualangan Sherina, Paddington, Mary Poppins Returns, Dora and the Lost City of Gold, dan Jumbo, lalu ajak anak mencari tempatnya di peta.
Apa arti label di bawah poster?
Label bergambar pesawat itu menyebut tujuan film, misalnya Jakarta, New York, atau Eropa. Lencana kuning di poster adalah rating dan lencana gelap adalah durasi dalam menit.
Bisakah Dunia21 dibuka di ponsel?
Bisa. Papan keberangkatan tersusun menjadi empat blok bertumpuk, poster tampil dua kolom, dan semua tombol berukuran nyaman untuk jari.
Bagaimana cara menyimpan film?
Tekan tombol Daftar Saya di halaman film. Daftar tersimpan di peramban Anda dan bisa dibuka kapan saja dari menu atas.
Mengapa Amerika dibagi menurut tahun?
Karena film berlatar Amerika di luar New York berjumlah 48. Garis tahun 2010 membaginya menjadi dua rak yang nyaman dijelajahi: 20 film sampai 2010 dan 28 film sejak 2011.
6,5
7,5
8,8
7,5
7,2
6,4
7,6
7,0
8,0
6,9
7,9
6,8
7,2
8,1
6,7
7,2
6,7
7,4
7,2
7,9
7,6
7,7
7,7
7,6
7,3
6,8
7,2
6,6
7,4
7,2
7,0
8,0
7,8
7,8
6,5
8,0
7,0
7,6
6,6
7,0